Penyakit usus buntu atau radang usus buntu disebabkan oleh cairan feses yang salah belok dan terjebak di saluran usus buntu.Selain itu penumpukkan lendir atau mucus juga bisa menjadi penyebab usus buntu. Baik lendir maupun feses tersebut akan mengeras dan membentuk fecalith atau batu fekal yang kemudian menutup akses ke dalam usus buntu. Lalu berkembanglah bakteri jahat yang kemudian terjebak dan menyebabkan peradangan.

Dalam beberapa kasus, radang usus buntu disebabkan oleh biji atau zat-zat tak tercerna lainnya yang nyasar masuk ke dalam usus buntu. Walaupun begitu, kasus tersebut sangatlah langka. Hanya ada 1 kasus di antara 2.000 kasus.

Dimasyarakat umum tersebar mitos yang telah lama beredar bahwa seseorang harus membatasi makan cabai karena biji yang dimilikinya. Kandungan biji yang dimiliki cabai ini disebut dapat menyebabkan radang usus buntu. Adanya kepercayaan mengenai hal ini sendiri hingga kini masih beredar di masyarakat dan banyak dipercaya. Walau begitu, sebuah penelitian mengungkap bahwa kasus usus buntu akibat biji cabai ini merupakan salah satu hal yang sangat terjadi.

Cara Diagnosa Usus Buntu

Sama seperti penyakit lainnya, dokter mungkin akan menanyakan seputar riwayat kesehatan Anda secara keseluruhan. Setelah itu, dokter akan melakukan pemeriksaan fisik dengan cara menekan atau menepuk perut bagian kanan bawah secara perlahan-lahan. Dalam banyak kasus orang yang sakit usus buntu umumnya akan merasa kesakitan ketika perut bagian kanan bawahnya ditekan atau ditepuk meski hanya perlahan.

Untuk memantapkan diagnosis, dokter juga mungkin akan melakukan pemeriksaan lanjutan yang melibatkan:

  • Pemeriksaan darah untuk melihat adanya infeksi.
  • Pemeriksaan urin untuk memastikan nyeri Anda tidak disebabkan oleh infeksi saluran kencing atau batu ginjal.
  • Pemeriksaan imaging seperti rontgen, USG perut, atau computerized tomography (CT) untuk melihat kondisi usus buntu pasien.

Dokter mungkin juga akan melakuan pemeriksaan organ intim atau tes kehamilan bagi wanita yang belum memasuki masa menopause. Hal ini dilakukan guna memastikan apakah gejala yang dikeluhkan pasien memang benar karena usus buntu atau justru penyakit yang berhubungan dengan organ reproduksi.